SEJARAH
PERADABAN ISLAM
JUDUL
:
MASJID
AGUNG SURAKARTA
“ANTARA
PUSAT KEAGAMAAN DAN KEBUADAYAAN”
PENULIS
:
ZAIROTUL
ZAMRONAH
KELAS
:
PERBANKAN
SYARIAH 1 C
NIM
:
175231096
Sejarah
merupakan hal yang terjadi pada masa lalu bersifat penting dan terjadi hanya
sekali, saya menulis ini guna menyelesaikan tugas akhir mata kuliah Sejarah
Peradaban Islam. Untuk mengetahui sejarah peradaban islam di Surakarta saya
mengambil tema “sejarah masjid” dan saya memilih Masjid Agung Surakarta sebagai
objeknya. Saya memilih Masjid Agung Surakarta dikarenakan terdapat banyak
keunikan dengan makna tertentu yang berbeda dengan masjid agung lain di
sekarisidenan Surakarta, selain itu tidak semua orang tahu mengenai cerita di
balik masjid tersebut berdiri. Akhirnya
hal ini membuat saya tertarik ingin menggali lebih banyak dari masjid tersebut
dan memberikan informasi kepada masyarakat luas mengenai Masjid Agung
Surakarta.
Masjid
Agung Surakarta memiliki beberapa keunikan. Berdasarkan yang saya lihat diantaranya
bentuk atap bertingkat 3, arsitek bangunan seperti pendopo, mayoritas banguan
menggunakan kayu, warna biru yang mendominasi di setiap bangunanya, 2 blumbang
di depan serambi utama masjid, terdapat ruangan khusus untuk solat para wanita,
memiliki banyak pintu, terdapat 2 bangunan khusus di wilayah halaman masjid
tepatnya di dekat gapura, tempat wudhu yang tidak biasa, serta keramik yang tersusun
secara miring. Riset ini dilakukan dengan mewawancara narasumber terpercaya
dari pihak kepengurusan Masjid Agung Surakarta yaitu Bapak Abdul Basyid Rohmat
selaku sekretaris Masjid Agung Surakarta. Sebelum melakukan wawancara saya
disuruh mempelajari terlebih dahulu
brosur tentang sejarah masjid yang telah diberikan 1 hari sebelum wawancara
ketika sedang membuat janji dan setelah itu melakukan pengamatan terhadap objek
secara langsung.
PERADABAN ISLAM DI SURAKARTA
Masjid
merupakan tempat ibadah bagi orang islam, akan tetapi bagi musafir (orang yang
dalam perjalanan jauh) bisa di
manfaatkan sebagai tempat transit/istirahat sejenak untuk menghilangkan rasa
lelah. Seperti halnya Masjid Agung Surakarta banyak orang yang berdatangan
untuk beribadah ataupun hanya sekedar foto-foto, duduk santai, istirahat
sejenak, bahkan ketika waktu solat tiba, khususnya solat dzuhur parkiran Masjid
Agung Surakarta penuh dengan kendaraan karena banyaknya orang yang melakukan
solat di Masjid tersebut.
GEOGRAFI
Masjid Agung berdiri di tanah seluas hampir 2 hektar tepatnya
1.928,65 m2 dengan halaman yang mayoritas masih asli berpasir.
Terletak di Solo tepatnya di Jalan Masjid Agung, Baluwarti, Surakarta. Masjid
Agung Surakarta jika dilihat dari peta terletak diantara alun-alun kidul
(selatan), keraton dan alun-alun utara dengan bangunan menghadap ke timur.
Letaknya terbilang strategis karena
berada di jalan dekat pasar klewer dimana banyak masyarakat melintasi jalan
tersebut sehingga banyak yang mengetahui keberadaan Masjid Agung Surakarta, tidak
hanya masyarakat surakarta saja akan tetapi masyarakat luar kota pun
mengetahuinya. Selain itu letaknya pun dapat dijangkau dengan sepeda motor,
mobil dan mini bus akan tetapi jika menggunakan bus besar maka akan kesulitan
karena jalanya tidak seluas jalan raya.
Masjid Agung Surakarta sangat ramai
dikunjungi oleh masyarakat baik dari dalam kota atau luar kota, apalagi ketika
acara tahunan yang diadakan oleh masjid seperti grebeg syawal, malem 21 an,
grebeg besar dan sekaten
DARI
KARTASURA KE SURAKARTA
Pada awalnya tahun 1745 keraton
Kartasura dipindah ke Surakarta, perpindahan ini didasari oleh peristiwa geger
pecinan yaitu perang hebat yang dipicu oleh pembantaian etnis Tionghoa di
Batavia. Setelah pindah, Pakubuwana II Mendirikan keraton dan membuat
alun-alun.
Sebenarnya
Masjid Agung Surakarta didirikan oleh Pakubwana II akan tetapi setelah menepati
dan menjabat di keraton, pembangunan dilanjutkan oleh Raja setelahnya yaitu
Pakubwana ke III. Konstruksi bangunan Masjid Agung Surakarta terinspirasi dari
Masjid Agung Demak yang seperti rumah adat jawa (joglo). Selain raja, Pakubwono
ke III juga sebagai seorang ulama yang mempunyai tugas mensiarkan islam maka
dibangun lah masjid tersebut.
EVOLUSI
MASJID AGUNG SURAKARTA
Pada waktu itu masjid dibangun
hanya bangunan inti dan setelah itu disempurnakan oleh Pakubwana ke VI dengan
membangun pawastren utara, selatan dan serambi, kemudian Pakubwana ke VIII
membangun blumbang dan sebagainya serta terakhir Pakubwana ke X
menyempurnakanya dengan membangun menara dan bangunan lain yang saat ini kita
bisa lihat.
Masjid
Agung Surakarta termasuk masjid cagar budaya yang umurnya saat ini hampir 300 tahun sehingga
bangunan tersebut berusaha di lestarikan, renovasi telah dilakukan beberapa
kali untuk mempertahankan bangunan tersebut meskipun bahan/materialnya tidak
seasli dahulu.
Pada
tahun 2012 dilakukan pembugaran terhadap keramik/tegel yang diganti dengan
tegel marmer, renovasi terakhir dilakukan pada tahun 2015 dengan mengganti atap
yang seharusnya dari kayu oleh pemerintah diganti dengan genting jenis metal prof karena sulitnya mencari kayu pada
saat ini, selain itu metal prof tahan terhadap panas dan air hujan sehingga
tidak mudah lapuk serta mampu meredam suara air hujan. Tiang – Tiang dan
bangunan berbahan kayu juga direnovasi dengan di tambal kemudian dilapisi
plitur sehingga tidak terlihat di tambal.
KEUNIKAN
Masjid
Agung Surakarta berbeda dengan masjid lain, hal ini terlihat jelas dari segi
bangunan kebanyakan bahan materialnya mayoritas kayu jati dimana kayu ini
terkenal dengan kekuatan serta kualitasnya yang tidak diragukan lagi, kemudian
arsitekturnya bergaya rumah adat (joglo) dari segi warna identik dengan warna
keraton Surakarta yaitu biru dan masih banyak lagi keistimewaan lainya. Seperti
adanya beberapa ruangan yang memiliki kegunaan masing-masing dan terdapat
bangunan – bangunan yang didirikan untuk kepentingan tertentu, serta
benda-benda unik yang memiliki makna tersendiri. Kemudian terdapat kegiatan
tahunan yang banyak menyita perhatian masyarakat yaitu Grebeg Syawal, Malem
Selikuran, Grebeg Besar dan Sekaten yang tidak semua masjid mengadakan kegiatan
tersebut.
ATAP MASJID – Atap bertrap-trap
(bertingkat) menurut arsitektur rumah jawa hal tersebut sudah lazim, akan tetapi atap Masjid Agung Surakarta yang
bertingkat 3 mempunyai makna tersendiri yaitu difilosofikan sebagai pondasi agama
islam yaitu rukun islam, rukun iman dan
ikhsan.
MUSTOKO – Ketika menjabat
Pakubuwana ke X menambahkan mustoko
yaitu kubah kecil yang terletak di bagian atas atap masjid, seiring dengan di
banguna menara. Mustoko di di tambahkan sebagai penanda bahwa bangunan tersebut
ialah masjid.
TRATAG RAMBAT – Setelah kita memasuki
gerbang, akan dihadapkan dengan sebuah bangunan yang menjorok keluar dari
bangunan masjid bernama “Tratag Rambat” bangunan tersebut digunakan sebagai
pintu utama masuk ke Bangunan Masjid Agung Surakarta.
MENARA – Pakubuwana X membangun menara
sekitar 33 meter yang merupakan
akulturasi dari budaya Timur Tengah, setelah ia naik haji ke Mekkah dan singgah
di Turki. Menara tersebut menandakan keberadaan masjid yang dapat terlihat dari
jauh. Dahulu menara tersebut digunakan untuk mengumandangkan adzan tetapi
seiring perkembangan zaman sekarang hanya digunakan sebagai tempat meletakkan toa
karena sudah ada sound system. Selain itu pintu menara tersebut di kunci agar
masyarakat tidak menaiki dengan alasan keamanan.
BANGSAL PRADONGGO – Bangsal pradonggo
merupakan sebuah bangunan yang terletak di sisi kanan dan kiri dekat gerbang
yang digunakan sebagai tempat di bunyikanya gamelan sekaten. Terdapat 2 macam
gamelan diantaranya gamelan guntur madu dan guntur sari yang merupakan peninggalan Pakubwana ke VI dalam rangka
menarik siar islam. Jadi pada waktu itu masyarakat menganut agama hindu dan
mereka menyukai gamelan, melihat kondisi tersebut para wali menciptakan tradisi
sekaten dengan memainkan gamelan serta lagu-lagu macapat sebagai daya tariknya
sehingga ketika masyarakat ingin masuk ke masjid menyaksikan gamelan maka harus
bersyahadat terlebih dahulu dan hingga kini tradisi Sekaten masih di
pertahankan.
BLUMBANG – di Masjid Agung Surakarta
terdapat blumbang yang terletak di depan serambi utama masjid. Blumbang merupakan
kolam kecil yang berisi air, digunakan untuk membersihkan kaki dari kotoran
atau najis. Masyarakat beranggapan bahwa masuk masjid bukanlah seperti memasuki
rumah, dimana ketika masuk masjid kaki harus keadaan bersih/suci walaupun
bentuk nya seperti rumah. Saat ini blumbang tersebut masih digunakan oleh
beberapa orang akan tetapi oleh anak kecil digunakan untu main air. Selain itu
blumbang tersebut juga berfungsi sebagai peredam pantulan sinar matahari ke serambi
utama masjid sehingga cuaca tidak terlalu panas.
PAWASTREN – Pawastren merupakan ruang
khusus dalam rumah jawa seperti gandhok (dapur)., terdapat 2 pawaastren yaitu
utara dan selatan. Sebelah utara digunakan sebagai tempat khitanan anak raja,
rapat dengan putra putri raja dan sebagainya, sebelah selatan digunakan sebagai
ruang khusus untuk solat para wanita.
Menariknya
pawastren selatan terdapat banyak cermin menempel di dinding bagian samping
yang disediakan untuk berdandan setelah solat atau sekedar memakai hijab, di
keputren juga ada kipas angin besar yang selalu hidup agar masyarakat ketika
solat tidak merasa gerah, kemudian disana terdapat 2 wanita penjaga (seperti
satpam) bertugas mengatur sof/mengarahkan sof yang tidak dimiliki oleh masjid
lainya.
PINTU UTAMA – Masjid Agung Surakarta
memiliki banyak sekali pintu, saya melihat dari sekian banyak pintu ada 1 pintu
yang ditutup dan pintu tersebut terletak di tengah-tengah (Pintu Utama),
ternyata itu merupakan pintu khusus untuk raja dan para tokoh yang masuk ke
Masjid Agung, serta pintu tersebut hanya di buka ketika beliau hadir di Masjid
Agung Surakarta, jika tidak maka pintu tersebut akan ditutup dan masyarakat
masuk lewat selain pintu utama.
SERAMBI – Serambi utama masjid
digunakan sebagai transit/ istirahat sejenak oleh masyarakat. Di sana lantainya
terbuat dari tegel marmer yang membuat lantai terasa dingin ketika di injak walaupun
cuaca diluar sedang panas sehingga dapat membuat betah masyarakat untuk
berlama-lama disitu seperti halnya berfoto, bersantai, tiduran dan sebagainya.
BEDUG
dan KENTONGAN – di Masjid Agung Surakarta terdapat bedug
dan kentongan besar. Bedug digunakan sebagai pemanggil orang untuk
solat, sedangkan kentongan besar digunakan sebagai iqomah. Bedug dan kentogan tersebut tidak
hanya sekedar pajangan, sampai sekarang masih digunakan khususnya pada hari
jumat.
MAYORITAS
BANGUNAN DARI KAYU JATI – Konstruksi pada Masjid Agung Surakarta mayoritas
menggunakan kayu jati terutama saka gurunya (Penyangga), kenapa kayu jati? karenakan
kayu jati merupakan kayu terkuat dan sangat bagus digunakan untuk
bahan bangunan serta kayu tersebut masih dipertahankan walaupun ditambal.
TEMPAT
WUDHU – Masjid Agung Surakarta mempunyai tempat wudhu yang menarik seperti bak
besar kemudian terdapat kran dimana dibawahnya sudah ada bak kecil memanjang,
sehingga jika berwudhu menggunakan selang kecil. Bagi saya ini sangat jarang di temukan,
biasanya jika berwudhu langsung dari kran. Airnya selalu mengalir hingga
tumpah-tumpah dan tempatnya pun jauh dari laki-laki sehingga tidak perlu
terburu-buru sehingga wudhunya bisa sempurna. Selain itu jika hanya sekedar
mencuci kaki / berwudhu tidak mendapatkan selang disana disediakan gayung
(ciduk).
ACARA
TAHUNAN – Setiap masjid mempunyai kegiatan yang bertujuan untuk menarik
perhatian masyarakat agar masjid tersebut ramai. Masjid Agung Surakarta
mempunyai acara tahunan yang dulu hingga sekarang masih di pertahanka dan banyak
menyita perhatian masyarakat. Pertama, Malem Selikuran diadakan setiap tanggal
20 malam (malam tanggal 21) pada bulan ramadhan. Hal tersebut dilakukan untuk
memperingati peristiwa turunya alquran dengan melaksanakan kirab kemudian
dilanjutkan dengan bagi-bagi makanan.
Setelah
Malem Selikuran ketika akhir bulan ramadhan atau memasuki bulan syawal diadakan
Grebeg Syawal. Hal ini bertujuan menyambut hari raya idul fitri dengan sedekah
bumi (bagi – bagi makanan), makanan tersebut dimaknai agar di bulan syawal
semua mendapatkan berkah. Begitu juga dengan kegiatan Grebeg Besar, kegiatan
ini sama seperti Grebeg Syawal akan tetapi yang membedakan adalah waktunya.
Grebeg Besar dilaksanakan di hari raya idul adha, dalam bahasa jawa istilah
idul adha disebut dengan ba’do besar dan hal itulah yang mendasari disebut “Grebeg Besar”.
Nah,
dari serangkaian kegiatan tersebut terdapat kegiatan puncak yaitu Sekatenan.
Sekatenan dilaksanakan 1 minggu menuju 11 rabiul awal ( Mulud) dan tahun ini
jatuh pada tanggal 25 November – 1 Desember 2017. Kegiatan ini diadakan untuk
memperingati Hari Maulid Nabi Muhamad (Mauludan), selain itu sekatenan juga di
gunakan sebagai sarana penyebaran islam.
Pada waktu itu masyarakat mayoritas beragama hindu dan menyukai gamelan,
supaya mereka tertarik dengan masjid maka para wali/ulama menciptakan tradisi
sekaten dengan sarana gamelan. Ketika masyarakat ingin melihatnya maka harus
bersyahadat terlebih dahulu dan secara otomatis mereka masuk islam.
REFLEKSI
Menurut
saya, berbicara mengenai Sejarah Peradaban Islam erat kaitanya dengan perkembangan
agama islam dari zaman dulu hingga sekarang. Masjid Agung Surakarta merupakan
salah satu bagian dari peradaban islam di Surakarta dengan menggunakan
kebudayaan sebagai sarananya. Tidak hanya bagian dari perkembangan agama islam
di Surakarta akan tetapi Masjid Agung juga sebagai pusat kebudayaan. seperti
kegiatan-kegiatan yang banyak menyita
perhatian masyarakat karena berkaitan dengan kebudayaan dan tradisi keraton,
sehingga tradisi tersebut harus dipertahankan dan dilestarikan serta bangunanya
yang unik. Walaupun Masjid Agung Surakarta sudah berusia ratusan tahun akan
tetapi tidak menjadikan masjid tersebut terbelakang atau kehilangan jamaah,
justru jamaah semakin ramai.
