Rabu, 22 November 2017

MASJID AGUNG SURAKARTA “ANTARA PUSAT KEAGAMAAN DAN KEBUADAYAAN”

SEJARAH PERADABAN ISLAM




JUDUL :
MASJID AGUNG SURAKARTA
“ANTARA PUSAT KEAGAMAAN DAN KEBUADAYAAN”





PENULIS :
ZAIROTUL ZAMRONAH
KELAS :
PERBANKAN SYARIAH 1 C
NIM :
175231096

Sejarah merupakan hal yang terjadi pada masa lalu bersifat penting dan terjadi hanya sekali, saya menulis ini guna menyelesaikan tugas akhir mata kuliah Sejarah Peradaban Islam. Untuk mengetahui sejarah peradaban islam di Surakarta saya mengambil tema “sejarah masjid” dan saya memilih Masjid Agung Surakarta sebagai objeknya. Saya memilih Masjid Agung Surakarta dikarenakan terdapat banyak keunikan dengan makna tertentu yang berbeda dengan masjid agung lain di sekarisidenan Surakarta, selain itu tidak semua orang tahu mengenai cerita di balik masjid tersebut berdiri.  Akhirnya hal ini membuat saya tertarik ingin menggali lebih banyak dari masjid tersebut dan memberikan informasi kepada masyarakat luas mengenai Masjid Agung Surakarta.
Masjid Agung Surakarta memiliki beberapa keunikan. Berdasarkan yang saya lihat diantaranya bentuk atap bertingkat 3, arsitek bangunan seperti pendopo, mayoritas banguan menggunakan kayu, warna biru yang mendominasi di setiap bangunanya, 2 blumbang di depan serambi utama masjid, terdapat ruangan khusus untuk solat para wanita, memiliki banyak pintu, terdapat 2 bangunan khusus di wilayah halaman masjid tepatnya di dekat gapura, tempat wudhu yang tidak biasa, serta keramik yang tersusun secara miring. Riset ini dilakukan dengan mewawancara narasumber terpercaya dari pihak kepengurusan Masjid Agung Surakarta yaitu Bapak Abdul Basyid Rohmat selaku sekretaris Masjid Agung Surakarta. Sebelum melakukan wawancara saya disuruh  mempelajari terlebih dahulu brosur tentang sejarah masjid yang telah diberikan 1 hari sebelum wawancara ketika sedang membuat janji dan setelah itu melakukan pengamatan terhadap objek secara langsung.






PERADABAN ISLAM DI SURAKARTA
Masjid merupakan tempat ibadah bagi orang islam, akan tetapi bagi musafir (orang yang dalam perjalanan jauh)  bisa di manfaatkan sebagai tempat transit/istirahat sejenak untuk menghilangkan rasa lelah. Seperti halnya Masjid Agung Surakarta banyak orang yang berdatangan untuk beribadah ataupun hanya sekedar foto-foto, duduk santai, istirahat sejenak, bahkan ketika waktu solat tiba, khususnya solat dzuhur parkiran Masjid Agung Surakarta penuh dengan kendaraan karena banyaknya orang yang melakukan solat di Masjid tersebut.
GEOGRAFI
Masjid Agung berdiri  di tanah seluas hampir 2 hektar tepatnya 1.928,65 m2 dengan halaman yang mayoritas masih asli berpasir. Terletak di Solo tepatnya di Jalan Masjid Agung, Baluwarti, Surakarta. Masjid Agung Surakarta jika dilihat dari peta terletak diantara alun-alun kidul (selatan), keraton dan alun-alun utara dengan bangunan menghadap ke timur.
Letaknya terbilang strategis karena berada di jalan dekat pasar klewer dimana banyak masyarakat melintasi jalan tersebut sehingga banyak yang mengetahui keberadaan Masjid Agung Surakarta, tidak hanya masyarakat surakarta saja akan tetapi masyarakat luar kota pun mengetahuinya. Selain itu letaknya pun dapat dijangkau dengan sepeda motor, mobil dan mini bus akan tetapi jika menggunakan bus besar maka akan kesulitan karena jalanya tidak seluas jalan raya.
Masjid Agung Surakarta sangat ramai dikunjungi oleh masyarakat baik dari dalam kota atau luar kota, apalagi ketika acara tahunan yang diadakan oleh masjid seperti grebeg syawal, malem 21 an, grebeg besar dan sekaten
DARI KARTASURA KE SURAKARTA
Pada awalnya tahun 1745 keraton Kartasura dipindah ke Surakarta, perpindahan ini didasari oleh peristiwa geger pecinan yaitu perang hebat yang dipicu oleh pembantaian etnis Tionghoa di Batavia. Setelah pindah, Pakubuwana II Mendirikan keraton dan membuat alun-alun.
Sebenarnya Masjid Agung Surakarta didirikan oleh Pakubwana II akan tetapi setelah menepati dan menjabat di keraton, pembangunan dilanjutkan oleh Raja setelahnya yaitu Pakubwana ke III. Konstruksi bangunan Masjid Agung Surakarta terinspirasi dari Masjid Agung Demak yang seperti rumah adat jawa (joglo). Selain raja, Pakubwono ke III juga sebagai seorang ulama yang mempunyai tugas mensiarkan islam maka dibangun lah masjid tersebut.
EVOLUSI  MASJID AGUNG SURAKARTA
Pada waktu itu masjid dibangun hanya bangunan inti dan setelah itu disempurnakan oleh Pakubwana ke VI dengan membangun pawastren utara, selatan dan serambi, kemudian Pakubwana ke VIII membangun blumbang dan sebagainya serta terakhir Pakubwana ke X menyempurnakanya dengan membangun menara dan bangunan lain yang saat ini kita bisa lihat.
Masjid Agung Surakarta termasuk masjid cagar budaya yang  umurnya saat ini hampir 300 tahun sehingga bangunan tersebut berusaha di lestarikan, renovasi telah dilakukan beberapa kali untuk mempertahankan bangunan tersebut meskipun bahan/materialnya tidak seasli dahulu. 
Pada tahun 2012 dilakukan pembugaran terhadap keramik/tegel yang diganti dengan tegel marmer, renovasi terakhir dilakukan pada tahun 2015 dengan mengganti atap yang seharusnya dari kayu oleh pemerintah diganti dengan genting jenis  metal prof karena sulitnya mencari kayu pada saat ini, selain itu metal prof tahan terhadap panas dan air hujan sehingga tidak mudah lapuk serta mampu meredam suara air hujan. Tiang – Tiang dan bangunan berbahan kayu juga direnovasi dengan di tambal kemudian dilapisi plitur sehingga tidak terlihat di tambal.
KEUNIKAN
Masjid Agung Surakarta berbeda dengan masjid lain, hal ini terlihat jelas dari segi bangunan kebanyakan bahan materialnya mayoritas kayu jati dimana kayu ini terkenal dengan kekuatan serta kualitasnya yang tidak diragukan lagi, kemudian arsitekturnya bergaya rumah adat (joglo) dari segi warna identik dengan warna keraton Surakarta yaitu biru dan masih banyak lagi keistimewaan lainya. Seperti adanya beberapa ruangan yang memiliki kegunaan masing-masing dan terdapat bangunan – bangunan yang didirikan untuk kepentingan tertentu, serta benda-benda unik yang memiliki makna tersendiri. Kemudian terdapat kegiatan tahunan yang banyak menyita perhatian masyarakat yaitu Grebeg Syawal, Malem Selikuran, Grebeg Besar dan Sekaten yang tidak semua masjid mengadakan kegiatan tersebut.
ATAP MASJID – Atap bertrap-trap (bertingkat) menurut arsitektur rumah jawa hal tersebut sudah lazim, akan  tetapi atap Masjid Agung Surakarta yang bertingkat 3 mempunyai makna tersendiri yaitu difilosofikan sebagai pondasi agama islam  yaitu rukun islam, rukun iman dan ikhsan.
MUSTOKO – Ketika menjabat Pakubuwana ke X  menambahkan mustoko yaitu kubah kecil yang terletak di bagian atas atap masjid, seiring dengan di banguna menara. Mustoko di di tambahkan sebagai penanda bahwa bangunan tersebut ialah masjid.
TRATAG RAMBAT – Setelah kita memasuki gerbang, akan dihadapkan dengan sebuah bangunan yang menjorok keluar dari bangunan masjid bernama “Tratag Rambat” bangunan tersebut digunakan sebagai pintu utama masuk ke Bangunan Masjid Agung Surakarta.
MENARA – Pakubuwana X membangun menara sekitar 33 meter  yang merupakan akulturasi dari budaya Timur Tengah, setelah ia naik haji ke Mekkah dan singgah di Turki. Menara tersebut menandakan keberadaan masjid yang dapat terlihat dari jauh. Dahulu menara tersebut digunakan untuk mengumandangkan adzan tetapi seiring perkembangan zaman sekarang hanya digunakan sebagai tempat meletakkan toa karena sudah ada sound system. Selain itu pintu menara tersebut di kunci agar masyarakat tidak menaiki dengan alasan keamanan.
BANGSAL PRADONGGO – Bangsal pradonggo merupakan sebuah bangunan yang terletak di sisi kanan dan kiri dekat gerbang yang digunakan sebagai tempat di bunyikanya gamelan sekaten. Terdapat 2 macam gamelan diantaranya gamelan guntur madu dan guntur sari yang merupakan  peninggalan Pakubwana ke VI dalam rangka menarik siar islam. Jadi pada waktu itu masyarakat menganut agama hindu dan mereka menyukai gamelan, melihat kondisi tersebut para wali menciptakan tradisi sekaten dengan memainkan gamelan serta lagu-lagu macapat sebagai daya tariknya sehingga ketika masyarakat ingin masuk ke masjid menyaksikan gamelan maka harus bersyahadat terlebih dahulu dan hingga kini tradisi Sekaten masih di pertahankan.
BLUMBANG – di Masjid Agung Surakarta terdapat blumbang yang terletak di depan serambi utama masjid. Blumbang merupakan kolam kecil yang berisi air, digunakan untuk membersihkan kaki dari kotoran atau najis. Masyarakat beranggapan bahwa masuk masjid bukanlah seperti memasuki rumah, dimana ketika masuk masjid kaki harus keadaan bersih/suci walaupun bentuk nya seperti rumah. Saat ini blumbang tersebut masih digunakan oleh beberapa orang akan tetapi oleh anak kecil digunakan untu main air. Selain itu blumbang tersebut juga berfungsi sebagai peredam pantulan sinar matahari ke serambi utama masjid sehingga cuaca tidak terlalu panas.
PAWASTREN – Pawastren merupakan ruang khusus dalam rumah jawa seperti gandhok (dapur)., terdapat 2 pawaastren yaitu utara dan selatan. Sebelah utara digunakan sebagai tempat khitanan anak raja, rapat dengan putra putri raja dan sebagainya, sebelah selatan digunakan sebagai ruang khusus untuk solat para wanita.
Menariknya pawastren selatan terdapat banyak cermin menempel di dinding bagian samping yang disediakan untuk berdandan setelah solat atau sekedar memakai hijab, di keputren juga ada kipas angin besar yang selalu hidup agar masyarakat ketika solat tidak merasa gerah, kemudian disana terdapat 2 wanita penjaga (seperti satpam) bertugas mengatur sof/mengarahkan sof yang tidak dimiliki oleh masjid lainya.
            PINTU UTAMA – Masjid Agung Surakarta memiliki banyak sekali pintu, saya melihat dari sekian banyak pintu ada 1 pintu yang ditutup dan pintu tersebut terletak di tengah-tengah (Pintu Utama), ternyata itu merupakan pintu khusus untuk raja dan para tokoh yang masuk ke Masjid Agung, serta pintu tersebut hanya di buka ketika beliau hadir di Masjid Agung Surakarta, jika tidak maka pintu tersebut akan ditutup dan masyarakat masuk lewat selain pintu utama.
SERAMBI – Serambi utama masjid digunakan sebagai transit/ istirahat sejenak oleh masyarakat. Di sana lantainya terbuat dari tegel marmer yang membuat lantai terasa dingin ketika di injak walaupun cuaca diluar sedang panas sehingga dapat membuat betah masyarakat untuk berlama-lama disitu seperti halnya berfoto, bersantai, tiduran dan sebagainya.
BEDUG dan KENTONGAN – di Masjid Agung Surakarta terdapat  bedug  dan kentongan besar. Bedug digunakan sebagai pemanggil orang untuk solat, sedangkan kentongan besar digunakan sebagai  iqomah. Bedug dan kentogan tersebut tidak hanya sekedar pajangan, sampai sekarang masih digunakan khususnya pada hari jumat.
MAYORITAS BANGUNAN DARI KAYU JATI – Konstruksi pada Masjid Agung Surakarta mayoritas menggunakan kayu jati terutama saka gurunya (Penyangga), kenapa kayu jati? karenakan kayu jati merupakan  kayu  terkuat dan sangat bagus digunakan untuk bahan bangunan serta kayu tersebut masih dipertahankan walaupun ditambal.
TEMPAT WUDHU – Masjid Agung Surakarta mempunyai tempat wudhu yang menarik seperti bak besar kemudian terdapat kran dimana dibawahnya sudah ada bak kecil memanjang, sehingga jika berwudhu menggunakan selang kecil.  Bagi saya ini sangat jarang di temukan, biasanya jika berwudhu langsung dari kran. Airnya selalu mengalir hingga tumpah-tumpah dan tempatnya pun jauh dari laki-laki sehingga tidak perlu terburu-buru sehingga wudhunya bisa sempurna. Selain itu jika hanya sekedar mencuci kaki / berwudhu tidak mendapatkan selang disana disediakan gayung (ciduk).
              ACARA TAHUNAN – Setiap masjid mempunyai kegiatan yang bertujuan untuk menarik perhatian masyarakat agar masjid tersebut ramai. Masjid Agung Surakarta mempunyai acara tahunan yang dulu hingga sekarang masih di pertahanka dan banyak menyita perhatian masyarakat. Pertama, Malem Selikuran diadakan setiap tanggal 20 malam (malam tanggal 21) pada bulan ramadhan. Hal tersebut dilakukan untuk memperingati peristiwa turunya alquran dengan melaksanakan kirab kemudian dilanjutkan dengan bagi-bagi makanan.
              Setelah Malem Selikuran ketika akhir bulan ramadhan atau memasuki bulan syawal diadakan Grebeg Syawal. Hal ini bertujuan menyambut hari raya idul fitri dengan sedekah bumi (bagi – bagi makanan), makanan tersebut dimaknai agar di bulan syawal semua mendapatkan berkah. Begitu juga dengan kegiatan Grebeg Besar, kegiatan ini sama seperti Grebeg Syawal akan tetapi yang membedakan adalah waktunya. Grebeg Besar dilaksanakan di hari raya idul adha, dalam bahasa jawa istilah idul adha disebut dengan ba’do besar dan hal itulah yang  mendasari disebut “Grebeg Besar”.
              Nah, dari serangkaian kegiatan tersebut terdapat kegiatan puncak yaitu Sekatenan. Sekatenan dilaksanakan 1 minggu menuju 11 rabiul awal ( Mulud) dan tahun ini jatuh pada tanggal 25 November – 1 Desember 2017. Kegiatan ini diadakan untuk memperingati Hari Maulid Nabi Muhamad (Mauludan), selain itu sekatenan juga di gunakan sebagai sarana penyebaran islam.  Pada waktu itu masyarakat mayoritas beragama hindu dan menyukai gamelan, supaya mereka tertarik dengan masjid maka para wali/ulama menciptakan tradisi sekaten dengan sarana gamelan. Ketika masyarakat ingin melihatnya maka harus bersyahadat terlebih dahulu dan secara otomatis mereka masuk islam.

REFLEKSI

              Menurut saya, berbicara mengenai Sejarah Peradaban Islam erat kaitanya dengan perkembangan agama islam dari zaman dulu hingga sekarang. Masjid Agung Surakarta merupakan salah satu bagian dari peradaban islam di Surakarta dengan menggunakan kebudayaan sebagai sarananya. Tidak hanya bagian dari perkembangan agama islam di Surakarta akan tetapi Masjid Agung juga sebagai pusat kebudayaan. seperti kegiatan-kegiatan  yang banyak menyita perhatian masyarakat karena berkaitan dengan kebudayaan dan tradisi keraton, sehingga tradisi tersebut harus dipertahankan dan dilestarikan serta bangunanya yang unik. Walaupun Masjid Agung Surakarta sudah berusia ratusan tahun akan tetapi tidak menjadikan masjid tersebut terbelakang atau kehilangan jamaah, justru jamaah semakin ramai.



KOPI Untuk semua

Nama : Zairotul Zamronah NIM : 175231096 Prodi : Perbakan syariah Tempat observasi : Yellow truck Yellow Truck , Perjalanan Dinas  ...