Rabu, 28 Maret 2018

Perjalanan pondok ku

Pengalaman di Pondok Pesantren Ta’mirul Islam

Nama : Zairotul Zamronah
NIM : 175231096
Kelas : PBS 2C
Saya akan menceritakan perjalanan mencari pondok hingga live in di pondok. Dalam mencari pondok saya hanya mengikuti teman sekelompok saja, yaitu memilih pondok yang ada di Karanganyar bernama Isy Karima. Kemudian dihari dimana kita harus menemui pimpinan, kita janjian dan bertemu disuatu tempat dengan anggota kelompok. Sebelum itu saya menjemput teman saya yang bernama Novia, lalu menghampiri teman-teman yang sudah berkumpul terlebih dahulu di karangpandan.

Setelah itu menuju ke Pondok Isy Karima, akan tetapi sebelum sampai ke tempat tujuan kita mendapatkan informasi bahwa disana hanya mengajarkan Tauhid untuk anak MI sedangkan untuk anak sma dan perkuliahan mayoritas laki laki dan wanita sangat minim hampir tidak ada. Akhirnya kita memutuskan untuk memikirkan pondok lain, kita berhenti sejenak di jembatan gerbang 27 disana kami beristirahat sambil berunding dan menunggu 2 orang teman kami dari Kemuning.

Setelah 2 orang teman tadi sampai, salah satu teman kami mempunyai pandangan pesantren yang akan ditempati yaitu Ta’mirul Islam. Tidak menunggu lama kami langsung melakukan perjalanan menuju ke Pondok Ta'mirul Islam, dengan terik panas matahari  yang menyengat. Namun pada saat di area Surakarta hujan turun sedikit lebat, akan tetapi kami tetap menerjang dan sampailah di pondok Ta’mirul Islam kemudian segera menemui pimpinan pondok pesantren dan segera melaksanakan live in.

Dalam menemui pimpinan pondok pesantren diwakili oleh 3 orang dari kelompok kita yang masuk ke pondok dan bertanya, kemudian kita hanya diberi nomer telepon Pempinan Pondok yaitu ustadz Halim untuk bertanya lebih lanjut. Setelah itu kami pulang menuju rumah masing-masing. Keesokan harinya saya pergi ke kampus bersama teman-teman untuk menyerahkan surat izin dan ternyata ada miss komunikasi dalam pembagian kelompok yang menyebabkan 10 orang anggota kelompok harus dibagi lagi menjadi 2. Pembagian kelompok tersebut menyebabkan salah satu kelompok mengalah dan mencari pondok lagi, namun kami yang mendapatkan pondok Ta’mirul Islam, Alhamdulillah.

Setelah itu kami membuat surat izin baru dan memintakan tanda tangan ke akademik,  pertama kami datang pada piknik 07.00 WIB namun  akademik masih tutup. Akan tetapi kami mencoba kembali lagi hari selanjutnya setelah dibaca ada beberapa yang dikoreksi dan direvisi 2x sehingga kami harus bolak balik mengedit surat ke tempat foto copyan. Setelah 2x revisi surat izin, ada kesalahan kembali yang ditemukan dikarenakan pihak akdemik gemas karena bolak balik akhirnya dibenarkan oleh pihak akademik yang hanya meminta file surat dan menyuruh mengambil surat di sore hari.

Akhirnya pada hari Selasa kami ke pondok Ta’mirul Islam untuk menemui ustadz Halim, disana kami bertanya kepada adik-adik dan disuruh menunggu ustadz habis ashar. Untuk menunggu ustadz Halim kami sambi mencari minum dan setelah waktu ashar tiba kami diberi tahu untuk menunggu di asrama. sambil menunggu ustadz, saya mengamati dan heran terhadap tingkah laku adik-adik  yang minum langsung dari kran, saya ingin bertanya namun dianya memakai bahasa arab ketika berbincang dengan temanya,  kan jadi mengurungkan niat.

Akhirnya ustadz Halim datang dari Masjid dan kami langsung menemui beliau  dan bertanya perihal maksud kedatangan kami kemari, yaitu untuk mengadakan observasi tentang kehidupan di pondok pesantren serta pembelajaran kitab kuning dan tidak lupa kami menunjukan surat izin. Kamipun disuruh masuk ke ruangan, disana ustadz Halim bercerita kalau di pondok ta'mirul itu termasuk pondok modern karena cara pengajarannya menggunakan metode ditunjukan langsung bukan meghapal.

Disana ustadz Halim memanggil salah satu  murid dengan bahasa arab untuk memanggil salah satu ustadzah untuk menemuinya. Setelah ustadzah datang, ustadz Halim menjelaskan bahwa akan ada mahasiswa yang akan menginap sehingga untuk menyiapkan tempat tidur. Awalnya kami ingin menginap hari Rabu sampai Kamis akan tetapi pada hari itu pengajaran kitab kuning tidak ada, adanya Hari Minggu sama Malam Senin dan kami memutuskan menginap minggu pagi. disana kita diampu oleh Ustadzah lutfiah dalam pengenalan kemudian memberikan nomer WhatsApp untuk dihubungi lebih lanjut.

Kemudian setelah itu kami pulang dan pada hari Sabtu Utadzah Lutfiah memberikan kabar untuk kepondok Minggu Jam 09.0, di karenakan jam segitu jam istirahat para santri. Kemudian keesokan hari nya kami berangkat ke pondok  Setelah sampai di pondok Ta'mirul Islam, kami masuk kedalam ruangan ustadzah dan membicarakan tentang Urusan konsumsi. Disana kami hanya makan 1x dan membayar 3.000 rupiah. Setelah selesai, kami diberi tahu bahwa HP harus dikumpulkan agar benar-benar memahami kehidupan para santri.

Setelah itu kami ditunjukan ke sebuah kamar di lantai 2 lalu kami menaruh tas dan kami pun beristirahat. Baru istirahat sebentar ustadzah memberitaukan bahwa akan ada pelajaran di kelas 2 IPS dengan mata pelajaran Fikih, yang menawarkan apakah kita ingin mengikuti atau tidak dan kita memutuskan untuk mengikuti. Kita mendengarkan ustadzah menjelaskan materi mengenai Istihadoh kurang lebih selama 2 jam.

Dalam hal yang berkaitan dengan berbicara disana dilakukan nya menggunakan bahasa arab dan inggris, baik dengan teman ataupun ustadz/ustadzah. Hal ini dikarenakan di pondok hanya boleh menggunakan 2 bahasa yaitu bahasa Arab dan Inggris, jika menggunakan bahasa daerah termasuk bahasa jawa dianggap sebagai pelanggaran berat. Akan tetapi ketika berbicara dengan orang luar termasuk kita menggunakan bahasa Indonesia. 

Ustadzah juga berkata kalau kami melihat para santri berbicara menggunakan bahasa Jawa maka langsung ditegur/marahin saja, hal tersebut agar kami berlagak seperti patroli pondok. Setelah itu kami menjenguk salah satu santri yang sakit ke kamar nya, disana kami mendoakanya supaya lekas sembuh.

Setelah itu kami kembali ke kamar dan berencana ingin makan siang namun kita akan makan setelah nyemil. Setelah beberapa saat kami mendengar suara adzan dan bergegas pergi ke mushola, sesampainya di mushola para santri sebelum solat membaca al-Qur’an terlebih dahulu. Selain itu, melakukan sholat sunnah qobla dzuhur dan mendapat aba-aba untuk berdiri sambil membaca sholawat kemudian sholat dimulai, setelah sholat ustadzah memimpin dzikir dan memberi aba-aba untuk sholat sunnah ba'dia dzuhur, setelah itu absen.

Selesai sholat saya dan teman-teman pergi untuk mencari makan di luar dikarenakan kami memutuskan untuk makan di pondok 1x disore hari. Sehabis makan kami pergi ke Togamas yaitu toko buku, membeli Al-Qur’an sebagai kenang-kenangan untuk pondok ta'mirul. Setelah membeli kenang-kenangan lalu pulang ke ponpes, kemudian kami duduk di depan ruang Ustadzah dan memperhatikan keadaan sekitar tanpa disangka ada bebek di pondok dan kami melihat dengan tertawa sendiri karena ada santri yang mengembara bebek ditengah lapangan. Kemudian datang seorang santri menghampiri dan menawari kita untuk melihat acara muhadoroh.

 Muhadoroh yaitu melakukan pidato di depan para santai untuk latihan ceramah, para santri menyampaikanya dengan bahasa Indonesia kadang juga bahasa Arab maupun Inggris, tetapi kali ini menggunkan bahasa Indonesia. Muhadoroh merupakan ekstrakuler yang wajib diikuti oleh para santri, karena ini untuk mengasah otak dan percaya diri didepan umum.

Namun sebelum pergi, karena kami masih penasaran kenapa ada santri yang langsung minum air dari keran kami menanyakannya. Santri itu menjawab kalau air keran itu sudah disaring jadi airnya sudah bersih dan langsung bisa diminum dan untuk soal anak-anak bebek, itu bentuk tantangan kepada dewan ambalan yang gagal dalam memenuhi tugas, jadi mereka harus ngikutin dan merawat bebek  itu selama satu bulan. Dalam hati saya ingin tertawa dikarenakan aneh saja hukuman dipondok dan baru pertama kali melihat seperti itu.

Setelah jam muhadoroh dimulai kami disuruh adek santri untuk masuk ke kelas untuk melihat muhadoroh. Muhadoroh disampaikan oleh 2 orang, disana tertawa penuh ceria para santri sambil bernyanyi. Tidak lama berselang kemudian waktu ashar telah tiba dan kami pergi ke mushola menjalankan sholat ashar kemudian kami meminta izin kepada ustadzah untuk mengambil Hp untuk berfoto bersama untuk kenang-kenangan di pondok. 

Setelah selesai berfoto kami pergi ke kamar tamu untuk mengambil peralatan mandi, setelah saya selesai mandi makanan sore datang. Setelah makan waktu sudah menunjukan jam 17.15 WIB dan kami harus bersiap-siap ke mushola untuk mengaji bersama. Setelah mengaji sebelum sholat dimulai, para santri melaksanakan solawat kemudianan Kyai berceramah sampai pukul 19.30 lalu beliau mengimami sholat Isya.

Setelah itu kami kembali ke kamar tamu untuk bersiap-siap dengan kegiatan selanjutnya. Kami membersihkan tempat tidur  dan memasukkan barang-barang yang sekiranya sudah tidak dipergunakan. Kemudian pukul 20.00 WIB kami dipanggil oleh Ustadzah untuk mengkuti kegiatan selanjutnya yaitu pembelajaran kitab kuning, yang bertempat di rumah warga yang dekat dengan pondok pesantren putra. Kami mengikuti pembelajaran tersebut dengan disediakan kursi duduk oleh pengurus.

Pembelajaran diajarkan oleh seorang Kyai yang dibantu oleh seorang moderator. Kyai dalam mengajarkanya dengan cara dibaca arab nya kemudian diterjemahkan satu per satu menggunakan bahasa jawa dan harakat-harakat nya juga dijelaskan. 

Kitab tersebut terkhususkan untuk warga sekitar pondok dan santri-santri pria yang berminat mengikuti pembelajaran, selain itu santri putri juga dapat mengikuti pembelajaran yang diselenggarakan setiap hari Minggu sekitar pukul 20.00 WIB dan setiap hari Senin setiap pukul 20.00 WIB. Dalam prosesnya Kyai menjelaskan arti dari bacaan per kata dan dipersilahkan kepada penanya apabila merasa bingung dengan penjelasan Kyai setelah pembelajaran, yaitu proses pembacaan kitab kuning secara bersama-sama.

Tepat pukul 21:30 WIB, pembelajaran kitab kuning selesai, kemudian kami sekalian meminta ijin kepada Ustadzah selaku pengasuh kami untuk berpamitan. Tidak lupa kami mengucapkan permohonan maaf dan terima kasih karena telah menyambut kami dengan sangat baik. Setelah itu kami permisi ke kamar tamu untuk membereskan perlengkapan kami lalu kami ke ruang pengasuhan untuk memberikan kenang-kenangan kepada pondok pesantren berupa Al-Qur’an yang kami bungkus dengan kertas kado batik kemudian kami pulang.

Dapat disimpulkan disana kami mendapatkan pengalaman melalui beberapa kegiatan seperti muhadoroh, pengajaran kitab kuning, mendengarkan ceramah, bersolawat dan pengetahuan baru dan unik seperti hukuman yang tidak biasa serta minum langsung dari keran serta metode pengajaran yang menggunakan sistem Langsung pengamalan.

Penulisan pengalaman saya ketika live in pondok pesantren semoga dapat memberikan manfaat bagi pembaca, setidaknya dapat memberikan pengetahuan kepada siswa-siswa yang belum merasakan menjadi santri. Sehingga, mereka secara tidak langsung dapat mengetahui bagaimana pembelajaran di pondok pesantren. Tentang perbedaan antara pondok pesantren klasik dan pondok pesantren modern.

Jika kita melihat pondok pesantren modern kita akan menjumpai santri-santri berbincang-bincang dalam kesehariannya menggunakan bahasa Arab, Inggris dan Indonesia. Sedangkan pengunaan bahasa daerah (seperti bahasa Jawa) merupakan pelanggaran berat bagi santri-santri di pondok pesantren, terutama di pondok pesantren Ta’mirul Islam. Yang dalam peraturan kesehariannya hampir seperti Pondok Gontor, Jawa Timur. Banyak hal yang berbeda dengan bangku perkuliahan, di pondok lebih disiplin baik dari orang nya maupun peraturanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KOPI Untuk semua

Nama : Zairotul Zamronah NIM : 175231096 Prodi : Perbakan syariah Tempat observasi : Yellow truck Yellow Truck , Perjalanan Dinas  ...